oleh

Petani Koi Super di Blitar!

Kota Blitar yang terletak di provinsi Jawa Timur, sekarang ini dikenal sebagai salah satu produsen koi terbesar di Indonesia loh sobat! Beriringan dengan Tulungagun, Kediri, serta Sukabumi di Jawa Barat. Tahukah kamu, dalam setahun Setidaknya ada empat kompetisi an pameran koi yang diadakan di Blitar. Salah satunya adalah Blitar Koi Club, yang kepala acaranya ialah saudara Saiful, salah satu petani koi di Desa Kemloko (salah satu pusat pertanian koi di Blitar). Acara ini akan diadakan setiap bulan Juni dan disertai dengan hadiah utama Piala Presiden, wah keren ya sobat DOKU!

Dilansir oleh Jakarta Post, Kepala Badan Pertanian dan Perikanan Blitar, Adi Andaka, ada sekitar 2.000 petani koi di Blitar pada tahun 2019 yang penjualan meraip untung hingga puluhan miliar rupiah. Jakarta, Bandung dan Denpasar dikatakan sebagai tiga kota yang membeli ikan koi terbanyak dari Blitar.

“Kami berencana untuk mengekspor ikan-ikan koi kami ke negeri sakura (Jepang). Tahun lalu, koi Blitar sudah berpartisipasi loh dalam sebuah pameran di Jepang dan dirayakan karena warnanya yang berani, ”terang Adi.

Koi sebagai ikan hias telah di kembangbiakkan di Jepang sejak awal abad ke-19, loh. Dalam bahasa Jepang, istilah “koi” terdengar sama halnya dengan makna kata untuk “cinta” atau “kasih sayang”, dan karenanya itu diartikan sebagai simbol cinta.

Apa yang dicari peminat KOI?

Para pecinta Koi, ternyata memilih ikan berdasarkan warna, kombinasi warna serta pola atau corak yang terdapat dalam tubuhnya. Warna yang paling umum biasanya adalah warna putih, hitam, merah, kuning serta biru.

Jika dilihat-lihat sekiranya ada 20 varian warna dan pola atau corak yang populer, yang diberi nama dalam bahasa Jepang. Meliputi, Kohaku misalnya, adalah ikan dengan dua kombinasi warna: antara putih dan merah. Showa Sanshoku, adalah koi yang berwarna merah, putih dan kebanyakan hitam. Serta juga, koi yang memiliki sisik emas atau abu-abu metalik, yang disebut Kin ginrin. Wah banyak ya sobat!

Dalam budidaya Koi, setidaknya terdapat lima tahap penyortiran selama enam bulan pertama, dimulai saat benih ikan koi sudah berumur 1 minggu. Ternyata dari ribuan benih yang dihasilkan, mungkin hanya ada sekitar 10 persen yang bertahan hingga bulan kelima atau keenam, loh.

Petani koi dapat mulai menjual ikan mereka pada tahap keempat, ketika mereka sudah berusia 5 bulan dan panjangnya sekitar 12 – 15cm. Ikan koi Grade-A pada usia ini akan dihargai Rp25.000 (US$1,81) capai Rp35.000 per potong, loh. Sementara ikan koi yang sudah berusia 1 tahun, bisa tumbuh hingga 35 hingga 40cm, akan dihargai Rp500.000.

Jika di pasaran, ikan koi grade-A ini dengan panjang sekitar 50 sentimeter dijual dengan harga mencapai Rp2,5 juta hingga Rp10 juta.

Saiful juga menyampaikan, bahwa pertanian koi menghasilkan pendapatan lebih besar tinimbang pertanian padi. “Bertani ikan koi dengan cara yang baik dan benar dengan kolam 1/4-ha, sekiranya akan menghasilkan pendapatan bulanan di atas upah minimum Blitar,” sampainya.

Dibalik itu semua, Saiful juga mengingatkan. Seiring dengan pengetahuan yang memadai, bertani koi juga membutuhkan banyak modal untuk pemeliharaan kolam serta pelet pakan ikan. Tantangan terbaru adalah penyakit ikan dan parasit yang menyerang ikan Koi dan Saiful berharap pemerintah dapat berkontribusi membantu para petani koi dalam mengatasi masalah ini.